Adopsi dan Peran Agentic ΑI
Tahun 2026 diperkirakan menjadi titik akselerasi bagi agentic Artificial Intelligence (Agentic Al). Teknologi ini mulai bergerak dari fase eksperimental menuju peran strategis dalam bisnis.
Pergeseran menuju agentic Al menandai perubahan mendasar bahwa Al bukan lagi alat pendukung berbasis perintah, tetapi sistem otonom yang mampu merencanakan, mengambil keputusan, dan mengeksekusi tugas lintas fungsi.
Perbedaan tersebut menjadi krusial karena agentic Al hadir saat organisasi membutuhkan efisiensi yang lebih tinggi di tengah tekanan ekonomi dan tuntutan digital yang makin kompleks. Kemampuan sistem untuk mengejar hasil, bukan sekadar menjalankan instruksi, menjadikan tahun 2026 sebagai momen ketika Al berubah dari kapabilitas teknis menjadi arsitektur kerja masa depan.
Transformasi ini makin relevan ketika generative Al yang populer sejak tahun 2023 dan terbukti memiliki keterbatasan dalam menangani skenario operasional yang rumit. Generative Al unggul mengolah konten, sedangkan agentic Al dirancang untuk membangun rencana, memecah pekerjaan, serta berkoordinasi dengan agen lain dalam ekosistem digital perusahaan.
Potensi ini juga dilihat oleh Veronica Utami, Country Director Google Indonesia. Menurutnya, momentum Al yang semakin kuat membuat Indonesia
MarketeersMAX
Anda harus berlangganan lebih dulu untuk mengakses semua konten premium ini. Apabila Anda sudah berlangganan, silakan klik tombol Login.
























