AGILE - Brand Management

Kelola Brand Lebih Prediktif

Percepatan adopsi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mendorong perusahaan mengubah cara mengelola brand, dari sekadar responsif menjadi makin prediktif. Pemanfaatan multimodal AI memungkinkan brand membaca perilaku konsumen lebih awal dan membangun narasi yang relevan di tengah perubahan pasar yang kian cepat

OlehBernadinus Adi Pramudita, Eric Iskandarsjah Z

Dinamika yang terjadi saat ini membuat perusahaan berada dalam situasi yang menuntut cara berpikir baru. Pasar bergerak makin cepat, perilaku konsumen berubah tanpa jeda, dan teknologi berkembang jauh lebih cepat dibandingkan siklus perencanaan bisnis tradisional. Dalam kondisi ini, perusahaan dituntut untuk adaptif, mampu menyesuaikan diri dengan perubahan, responsif, dan bahkan prediktif. Inilah esensi Agile dalam konteks bisnis saat ini yang mana perusahaan dituntut untuk lincah menatap keadaan. Dalam buku Reimagining Operational Excellence: Inspirations from Asia (2024) yang ditulis oleh Philip Kotler, Hermawan Kartajaya, dan Jacky Mussry, ditekankan bahwa keunggulan operasional pada era modern bukan lagi sekadar tentang efisiensi biaya atau standardisasi proses, melainkan tentang ketangkasan (agility). Penguasaan operasional yang lincah memungkinkan sebuah merek untuk tidak hanya sekadar memberikan janji (brand promise), tetapi juga memastikannya terpenuhi secara konsisten.

Dalam lanskap inilah multimodal AI dan predictive storytelling menjadi makin relevan, tidak hanya sebagai alat teknologi, tetapi sebagai pendekatan strategis dalam membangun dan mengelola brand. M

0

MarketeersMAX

Anda harus berlangganan lebih dulu untuk mengakses semua konten premium ini. Apabila Anda sudah berlangganan, silakan klik tombol Login.